KHABARNET — Ketegangan di kawasan Laut Merah kembali memuncak setelah Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi secara resmi mengeluarkan peringatan darurat untuk sejumlah kota strategis, termasuk Yanbu, Jeddah, Taif, Abha, hingga Jazan. Peringatan ini dirilis menyusul gelombang serangan sengit yang dilancarkan oleh kelompok Houthi dari Yaman.
Eskalasi pertempuran kembali meluap setelah kelompok Houthi mengklaim telah menembakkan puluhan rudal serta drone ke arah pangkalan udara militer Arab Saudi di Khamis Mushait. Serangan tersebut menargetkan fasilitas vital seperti hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, hingga depot amunisi. Koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan sedikitnya 13 warga sipil mengalami luka-luka akibat hantaman serangan tersebut.
Ancaman Pasokan Minyak Dunia
Konflik ini tidak hanya mengancam keamanan regional, tetapi juga mulai menggoyang pasar energi global. Sebuah serangan udara baru-baru ini menghantam jaringan pipa minyak utama Arab Saudi sepanjang 1.200 km yang menghubungkan wilayah timur dan barat negara tersebut. Operasi jaringan pipa vital tersebut terpaksa dihentikan sementara.
Para pengamat dan pedagang minyak memperkirakan bahwa penutupan pipa ini berpotensi mengganggu hingga 4% dari total pasokan minyak dunia. Dampaknya langsung terasa saat harga minyak mentah sempat melambung tinggi lebih dari 4% di pasar internasional.
AS Enggan Intervensi Militer Langsung
Di tengah situasi yang semakin mendesak, Arab Saudi dilaporkan telah berkoordinasi dengan Amerika Serikat. Namun, laporan menyebutkan pihak Washington masih enggan untuk melakukan intervensi militer secara langsung di lapangan dan sejauh ini hanya memberikan dukungan berupa pasokan intelijen.
Hingga saat ini, angkatan udara Arab Saudi bersama pasukan sekutu terus meningkatkan serangan balasan terhadap basis-basis pertahanan Houthi di wilayah pesisir Yaman.












