KHABARNET — Untuk pertama kalinya dalam sejarah eskalasi konflik di Timur Tengah, Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan peringatan darurat sipil (alert) hingga membunyikan sirene keselamatan yang mencakup kawasan Kota Suci Makkah. Peringatan ini dipicu oleh meningkatnya ancaman gelombang serangan rudal dan drone dari kelompok milisi Houthi di Yaman.
Selain Makkah, wilayah strategis lain seperti Jeddah dan Taif turut masuk ke dalam zona peringatan bahaya. Pengamat Timur Tengah Anan Nurdin mengungkapkan bahwa langkah peringatan darurat di Makkah ini merupakan tindakan preventif antisipatif dari pihak otoritas Arab Saudi guna menjamin keselamatan para jemaah umrah dan masyarakat sipil setempat.
Jangkauan Rudal Houthi Mengancam Seluruh Wilayah
Menurut analisis Anan, persenjataan yang dimiliki kelompok Houthi didukung penuh oleh Iran, membuat jangkauan rudal mereka kini sanggup menjangkau hampir seluruh provinsi dan wilayah strategis di Arab Saudi. Kendati demikian, kecil kemungkinan bagi Houthi untuk sengaja menyasar Kota Suci Makkah secara langsung, mengingat risiko kecaman politik dan isolasi massal dari negara-negara Islam di seluruh dunia.
Amerika Serikat Menolak Intervensi Militer
Eskalasi yang makin tidak terkendali ini membuat Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), melakukan kontak intensif dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meminta bantuan militer guna menggempur posisi Houthi di Yaman.
Namun, Washington secara tegas menolak permintaan tersebut. AS enggan terlibat perang langsung di darat bersama Arab Saudi agar tidak menguras kekuatan militer mereka dan memperluas eskalasi konflik secara global. Pihak AS mengonfirmasi hanya sebatas memberikan dukungan berupa pertukaran informasi intelijen dan pelatihan.
BACA JUGA > Arab Terancam! Arab Saudi Keluarkan Status Darurat Usai Houthi Hujani Rudal dan Drone












