KHABARNET, Persoalan pengangguran di Indonesia pun tidak sesederhana angka yang tercantum dalam laporan statistik. Di balik persentase tersebut terdapat masyarakat yang sedang mencari pekerjaan, lulusan baru yang mencoba memasuki dunia profesional, hingga pekerja yang kehilangan pekerjaan dan harus kembali bersaing di pasar kerja.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen. Angka tersebut memang turun 0,08 poin dibandingkan Februari 2025. Pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja mencapai 154,91 juta orang, sedangkan penduduk yang bekerja mencapai 147,67 juta orang.
Sekilas, penurunan angka pengangguran tersebut menjadi kabar baik. Namun, pertanyaannya kemudian bukan hanya tentang berapa banyak orang yang sudah mendapatkan pekerjaan, melainkan pekerjaan seperti apa yang mereka dapatkan.
ketika ijazah belum cukup
Persaingan mendapatkan pekerjaan semakin terasa, terutama bagi lulusan baru. Setiap tahun, ribuan bahkan jutaan orang memasuki pasar kerja dengan membawa latar belakang pendidikan dan keterampilan yang berbeda.
Masalahnya, kebutuhan dunia kerja berkembang lebih cepat. Perusahaan kini tidak hanya mempertimbangkan ijazah, tetapi juga pengalaman, kemampuan menggunakan teknologi, komunikasi, kemampuan beradaptasi, hingga keterampilan khusus yang sesuai dengan posisi yang ditawarkan. Akibatnya, lulusan baru dapat berada dalam situasi yang cukup membingungkan. Mereka membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan pengalaman, tetapi pada saat yang sama banyak lowongan justru mencantumkan pengalaman sebagai salah satu persyaratan.
Di titik inilah muncul sebuah ironi: bagaimana seseorang bisa memiliki pengalaman jika kesempatan pertama saja sulit didapatkan?
bagaimana seseorang bisa memiliki pengalaman jika kesempatan pertama saja sulit didapatkan?
Lapangan pekerjaan ada, tetapi belum tentu sesuai
Data BPS menunjukkan bahwa lapangan pekerjaan di Indonesia sebenarnya terus menyerap tenaga kerja. Salah satu sektor dengan jumlah pekerja terbesar pada Februari 2026 adalah sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, yang menyerap sekitar 42,49 juta orang atau 28,78 persen dari penduduk yang bekerja.Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Indonesia bukan semata-mata tidak adanya pekerjaan. Tantangannya juga terletak pada ketidaksesuaian antara pekerjaan yang tersedia dengan keterampilan, pendidikan, lokasi, dan harapan para pencari kerja.
Seorang lulusan perguruan tinggi, misalnya, belum tentu memiliki keterampilan yang dibutuhkan industri di daerah tempat tinggalnya. Sebaliknya, sebuah perusahaan dapat memiliki lowongan, tetapi kesulitan menemukan calon pekerja dengan kemampuan yang sesuai.
Kesenjangan tersebut membuat sebagian pencari kerja harus memilih antara menunggu pekerjaan yang sesuai atau menerima pekerjaan yang tersedia meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan latar belakang mereka.
Bekerja belum tentu berarti sejahtera
persoalan ketenagakerjaan juga tidak berhenti ketika seseorang mendapatkan pekerjaan.
Seseorang memang tidak lagi masuk dalam kategori pengangguran terbuka setelah bekerja. Namun, kondisi tersebut belum otomatis menunjukkan bahwa kehidupannya menjadi lebih baik.
Jenis pekerjaan, jumlah penghasilan, jam kerja, keamanan pekerjaan, serta kesempatan untuk berkembang menjadi hal yang tidak kalah penting.
Karena itu, keberhasilan dalam mengatasi pengangguran seharusnya tidak hanya diukur dari turunnya angka TPT. Pemerintah juga perlu melihat apakah lapangan pekerjaan yang tercipta mampu memberikan kehidupan yang layak bagi masyarakat.
BPS mencatat rata-rata upah buruh pada Februari 2026 sebesar sekitar Rp3,29 juta per bulan. Angka tersebut dapat menjadi salah satu gambaran bahwa persoalan ketenagakerjaan juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup setelah memperoleh pekerjaan.
Pekerjaan rumah pemerintah dan dunia pendidikan
Mengurangi pengangguran bukan hanya tugas pemerintah. Dunia pendidikan dan industri juga memiliki peran penting dalam menjembatani kesenjangan antara kemampuan lulusan dan kebutuhan perusahaan.
Kurikulum pendidikan perlu terus menyesuaikan diri dengan perubahan dunia kerja. Pelatihan keterampilan juga perlu diarahkan pada kemampuan yang benar-benar dibutuhkan oleh industri, bukan sekadar memberikan sertifikat.
Di sisi lain, perusahaan dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi pencari kerja pemula melalui program magang, pelatihan, atau posisi tingkat awal yang tidak selalu menuntut pengalaman bertahun-tahun.
Dengan begitu, masyarakat tidak hanya dipersiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga dipersiapkan agar mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja.
Di balik angka, ada manusia yang sedang menunggu kesempatan
Angka 4,68 persen memang menunjukkan bahwa kondisi pengangguran Indonesia mengalami perbaikan. Namun, statistik tidak selalu mampu menggambarkan kegelisahan seseorang ketika berulang kali membuka situs lowongan kerja, mengirim lamaran, mengikuti proses seleksi, kemudian menerima pesan bahwa dirinya belum berhasil.
Karena itu, persoalan pengangguran di Indonesia seharusnya tidak hanya dilihat dari pertanyaan “berapa orang yang belum bekerja?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah ”Apakah pekerjaan yang tersedia sudah mampu memberikan kesempatan yang adil dan kehidupan yang layak bagi mereka yang mencarinya?”
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan bukan hanya ketika angka pengangguran berhasil ditekan, tetapi ketika masyarakat memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sesuai kemampuan, dan mampu membuat mereka hidup dengan lebih baik.











