[JAKARTA] – Kasus penyalahgunaan aset digital Indonesia di kancah internasional kembali marak. Ratusan ribu akun Gmail asal Indonesia terdeteksi dikuasai dan dimanfaatkan oleh jaringan operasi siber di Malaysia dan Singapura. Beralih dari modus kejahatan finansial konvensional, ribuan akun “fresh” ini kini difokuskan untuk membanjiri kolom komentar media sosial demi menggerakkan narasi propaganda politik dan manipulasi opini publik secara masif.
Eksploitasi Akun Fresh dan Modus Operation
Temuan ini terungkap setelah sejumlah pakar keamanan siber dan penelti analisis media sosial mencermati tingginya aktivitas tidak wajar (coordinated inauthentic behavior) di platform utama seperti TikTok, X (Twitter), YouTube, dan Facebook.
Ribuan akun Gmail asal Indonesia—baik yang didapat dari aksi phishing, peretasan data, maupun pendaftaran massal ilegal—dijual di pasar gelap siber (dark web) sebelum akhirnya dibeli oleh agensi propaganda politik di luar negeri.

Penggunaan identitas digital asal Indonesia memberikan beberapa keuntungan taktis bagi pelaku propaganda di Malaysia dan Singapura:
– Penghindaran Deteksi Algoritma: Akun Gmail dari Indonesia yang sudah terverifikasi nomor telepon lokal dinilai memiliki reputasi baik (trust score) di mata sistem keamanan platform global. Hal ini membuat akun tidak mudah terblokir saat mendaftar atau mengirim komentar secara beruntun.
– Manipulasi Tren (Astroturfing): Melalui bot otomasi maupun operasi buzzer terkoordinasi, akun-akun ini digunakan untuk memposting ribuan komentar seragam secara bersamaan. Tujuannya untuk merekayasa seolah-olah suatu narasi politik mendapat dukungan atau penolakan publik yang masif.
– Serangan Komentar Terarah (Spamming & Flaming): Kolom komentar pada unggahan berita politik sensitif di Singapura dan Malaysia dibanjiri pesan propaganda, pengalihan isu, hingga pencemaran nama baik untuk merusak kredibilitas tokoh atau pihak oposisi tertentu.
Dampak Politik dan Reputasi Digital
Operasi lintas batas ini membahayakan integritas proses demokrasi di negara sasaran sekaligus merugikan reputasi ruang digital Indonesia. Penggunaan infrastruktur akun asal Indonesia dalam propaganda negara lain dapat memicu ketegangan diplomatik di tingkat regional jika tidak ditangani secara tegas.
Selain itu, pemilik asli akun di Indonesia yang datanya telah diretas berisiko menghadapi penangguhan akun secara permanen oleh Google akibat dianggap melanggar kebijakan spam dan manipulasi platform.
Peringatan Keras dan Langkah Antisipasi
Menanggapi fenomena ini, para ahli literasi digital mengimbau masyarakat Indonesia untuk memperketat keamanan akun personal guna mencegah pencurian kredensial yang berujung pada eksploitasi internasional:
1. Lakukan Pemeriksaan Sesi Login: Cek tautan keamanan Google (myaccount.google.com) untuk memastikan tidak ada perangkat tak dikenal yang terhubung dari wilayah Malaysia atau Singapura.
2. Aktifkan Verifikasi Dua Langkah (2FA): Gunakan aplikasi otentikator untuk mencegah peretasan jarak jauh.
3. Ubah Kata Sandi Secara Berkala: Hindari penggunaan kata sandi yang sama di berbagai platform untuk mencegah kebocoran data berantai (credential stuffing).
Otoritas siber regional diharapkan segera meningkatkan kerja sama penegakan hukum guna menindak jaringan jual-beli akun massal yang menyuplai mesin propaganda siber di Asia Tenggara.












