JAKARTA,KHABARNET — Anggapan bahwa membasahi masker dapat menyaring debu vulkanik secara lebih maksimal ternyata merupakan mitos berbahaya. Spesialis paru dan pernapasan dari RSUP Persahabatan, dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), mengimbau masyarakat untuk tidak sekali-kali menggunakan masker dalam kondisi basah maupun membasahinya saat beraktivitas di tengah paparan abu gunung berapi.
Menurut dr. Agus, masker yang lembap justru menjadi lingkungan ideal bagi perkembangbiakan virus, bakteri, hingga jamur. Penggunaan masker lembap selama beberapa jam berisiko tinggi memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Selain ancaman kuman, abu vulkanik mengandung partikel kimia silika. Jika partikel ini terkena masker yang basah, abu akan menempel erat dan mengeras menyerupai lapisan semen. Hal tersebut dapat menyumbat pori-pori masker, memicu sesak napas berat, dan menghambat sirkulasi udara yang masuk.
Untuk perlindungan maksimal dari paparan debu erupsi atau bencana udara lainnya, dr. Agus menyarankan masyarakat agar rutin mengganti masker respirator setiap 6 hingga 8 jam sekali, alih-alih membasahinya. Penggantian berkala ini penting karena napas manusia secara alami menghasilkan uap air yang lambat laun membuat masker menjadi lembap dan berpotensi menjadi sumber infeksi.












