KHABARNET— Situasi penegakan hukum di Indonesia kembali memanas setelah mantan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, melontarkan kritik pedas terhadap pola kerja aparat kepolisian. Dalam sebuah pernyataan yang langsung viral, ia menyoroti inkonsistensi aparat yang dinilai sangat gesit saat harus menangkap para habib dan ustadz, namun mendadak kehilangan taji ketika dihadapkan pada para preman jalanan.
Menurut Habib Rizieq, ketimpangan perlakuan ini mencederai rasa keadilan di tengah masyarakat. Ia menilai tindakan penegak hukum terkesan tebang pilih dan menunjukkan standar ganda dalam menjaga keamanan ketertiban umum.
“Giliran ulama, habib, atau ustadz yang bersuara kritis, gerakannya cepat luar biasa. Tapi giliran preman meresahkan masyarakat, nyalinya mendadak ciut,” ujar Habib Rizieq dengan nada tegas yang langsung memancing sorotan publik.
Pernyataan tajam tersebut sontak memicu perdebatan sengit di berbagai platform media sosial. Sebagian besar warganet sepakat bahwa premanisme dan aksi preman berkedok ormas masih kerap luput dari tindakan tegas penegak hukum, sementara kritik dari tokoh agama justru sering kali direspons dengan tindakan cepat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik terbuka yang dilayangkan oleh Habib Rizieq tersebut. Publik kini terus menanti transparansi dan keadilan yang merata tanpa pandang bulu dalam setiap penindakan hukum di Tanah Air.











