Jakarta Khabarnet — Proyek hunian mewah bernilai US$100 miliar yang digadang-gadang menjadi mega proyek futuristik pesisir pantai kini resmi menyandang predikat baru: markas tersembunyi bagi sindikat online scam internasional. Kepolisian Kontinjen Johor menggerebek dua jaringan penipuan skala besar yang memanfaatkan kesunyian apartemen-apartemen kosong di proyek mangkrak tersebut.
Operasi Penggerebekan Besar-besaran
Dalam penggerebekan tersebut, aparat kepolisian menangkap sedikitnya 335 orang terduga pelaku penipuan. Sebagian besar yang diamankan merupakan warga negara asing (WNA), termasuk 309 warga negara China serta 19 WNI.
Polisi turut menyita barang bukti operasional bernilai jutaan ringgit:
1. 1557 unit telepon seluler (smartphone).
2. 313 unit komputer desktop
3. 17 unit laptop
4. 10 unit modem dan perangkat jaringan internet berkecepatan tinggi
Aktivitas ilegal ini diketahui tersebar di 32 titik lokasi yang mencakup 27 unit apartemen pada lima lantai sebuah menara hunian, serta lima unit bungalow mewah.
Modus Kejahatan Kripto dan Love Scam
Kelompok sindikat ini memanfaatkan fasilitas internet cepat dan ruang tertutup untuk menjalankan dua jenis modus penipuan utama berbasis daring:
-
Penipuan Investasi Kripto (Crypto Scam): Mengembangkan skema investasi bodong bernilai fantastis yang mengincar korban di berbagai negara.
-
Penipuan Percintaan (Love Scam): Memakai identitas palsu untuk memikat korban secara emosional sebelum memeras keuangan mereka.
Mengapa Forest City Jadi “Surga” Para Penipu?
Kawasan yang dirancang oleh pengembang Country Garden asal Tiongkok sejak 2016 ini awalnya ditargetkan menampung hingga 700.000 penduduk. Namun akibat jeratan krisis utang pengembang, perselisihan izin, serta dampak pandemi, proyek ini mangkrak dan baru terbangun sekitar 15 persen.
Baca Juga > Bareskrim Tetapkan 72 Tersangka Kasus Pembakaran Hutan dan Lahan
| Faktor Pengubah | Realita di Lapangan |
| Kapasitas Target | 700.000 jiwa |
| Populasi Aktual | Kurang dari 5.000 orang (kurang dari 1% target) |
| Daya Tarik Kriminal | Ribuan apartemen kosong, privasi maksimal, minim pengawasan publik, dan infrastruktur internet modern. |
Minimnya penghuni lokal membuat pergerakan para anggota sindikat tidak memancing kecurigaan tetangga, menjadikannya lokasi ideal untuk aktivitas kejahatan digital terorganisir.
Kini, Forest City harus berhadapan dengan kenyataan pahit: dari impian kota hijau futuristik di Asia Tenggara, kawasan ini bertransformasi menjadi “kota hantu” yang dimanfaatkan oleh jaringan kriminal internasional.
Sumber
bloombergtechnoz.com
pojokbatam.id
mediaperjuangan











