NGANJUK,KHABARNET — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi sumber energi bagi para siswa justru berubah menjadi mimpi buruk. Sebanyak 100 pelajar dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dilaporkan mengalami dugaan keracunan massal secara misterius.
Peristiwa mencekam ini bermula ketika paket makanan MBG tiba di sekolah-sekolah sasaran, salah satunya di SMAN 3 Nganjuk, sekitar pukul 09.00 WIB. Berdasarkan data yang dihimpun, menu makanan yang dibagikan saat itu berupa nasi goreng, ayam suwir, telur dadar iris, tahu bulat, serta acar dengan isian timun dan wortel, lengkap buah semangka.
Tanpa ada rasa curiga, para siswa menyantap hidangan tersebut. Namun, petaka mulai datang beberapa jam kemudian. Para korban mendadak merasakan gelombang mual hebat, pusing, hingga muntah-muntah secara bersamaan.
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, langsung turun tangan membenarkan insiden mengejutkan ini. Menurutnya, jumlah korban yang awalnya dilaporkan puluhan orang, kini melonjak drastis menyentuh angka 100 orang dan tidak hanya berasal dari satu sekolah saja.
“Nganjuk saya harus pastikan lebih lanjut. Kita fokus juga tadi kan sudah 74, sudah bertambah lagi jadi 100 korban,” ujar Emil saat dikonfirmasi di Surabaya. “Bukan hanya di SMA 3 ya, tapi dari SD juga ada,” imbuhnya.
Hingga saat ini, pihak berwenang masih menutup rapat kepastian penyebab utama dari insiden horor pencernaan ini. Emil menyebutkan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat masih bergerak cepat melakukan investigasi mendalam dan uji laboratorium terhadap sampel makanan.
“Apa kira-kira penyebab spesifiknya masih ditelusuri oleh BGN. Karena yang punya akses BGN dan Dinkes setempat, tentu posisinya juga mendampingi,” jelas Ketua DPD Demokrat Jatim tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah langsung diminta berkoordinasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar program di lokasi terkait dievaluasi secara total demi mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi.











