JAKARTA,Khabarnet.com – Sebagian besar pengemudi ojek online (ojol) di Indonesia masih berada dalam jeratan masalah ekonomi. Hasil riset bertajuk Policy Brief edisi September 2026 yang dirilis oleh Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) bekerja sama dengan Great Edunesia dan Dompet Dhuafa mengungkap bahwa 90,96 persen atau 483 dari 531 pengemudi ojol yang disurvei di 51 kabupaten/kota sedang memiliki utang atau cicilan aktif.
Survei yang dilakukan pada 23–27 Agustus 2026 ini menemukan bahwa keterlibatan para pengemudi ojol dalam utang dipicu oleh minimnya pendapatan bersih harian yang tidak mencukupi pengeluaran harian rumah tangga.
Pendapatan Harian Sangat Terbatas Berdasarkan temuan riset, sebanyak 51,04 persen pengemudi mengantongi pendapatan bersih di bawah Rp75.000 per hari, bahkan 19,59 persen di antaranya berpendapatan bersih di bawah Rp50.000 per hari. Secara keseluruhan, 73,07 persen pengemudi berpendapatan di bawah Rp100.000 per hari setelah dipotong komisi aplikasi dan biaya operasional seperti BBM, konsumsi, serta kuota internet. Hanya 7,34 persen responden yang mampu meraup pendapatan bersih Rp150.000 atau lebih per hari.
Pinjaman untuk Bertahan Hidup, Bukan Modal Usaha Sebanyak 85,71 persen pemilik utang mengaku terpaksa berutang dalam tiga bulan terakhir untuk menutup kekurangan biaya hidup harian. Bahkan, 50,45 persen di antaranya meminjam setidaknya empat kali dalam kurun waktu tiga bulan tersebut.
Utang yang ditanggung bukan ditujukan untuk ekspansi bisnis, melainkan untuk bertahan hidup:
-
56,31% digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari/rumah tangga.
-
31,88% digunakan untuk membayar utang sebelumnya (gali lubang tutup lubang).
-
Hanya 10,97% yang dimanfaatkan sebagai modal usaha.
Sumber pembiayaan beragam, mulai dari pinjaman cicilan kendaraan, pinjaman online (pinjol), kerabat/teman (40,58%), paylater, bank, koperasi, hingga rentenir.
Beban Cicilan dan Risiko Tunggakan Mengenai nilai pinjaman, 45,96 persen pengemudi tercatat memiliki sisa utang minimal Rp10 juta, dan 20,29 persen di antaranya menanggung beban utang di atas Rp20 juta. Dari sisi beban pembayaran, 28,57 persen responden harus membayar cicilan Rp100.000 atau lebih setiap harinya.
Kondisi arus kas yang mepet memicu angka keterlambatan bayar yang cukup tinggi. Sebanyak 79,71 persen pengemudi yang berutang mengaku pernah terlambat membayar cicilan dalam tiga bulan terakhir. Dari kelompok yang terlambat tersebut, 38,18 persen di antaranya mengalami keterlambatan sedikitnya empat kali. Risiko denda berantai, bunga menumpuk, serta penutupan akses kredit kini membayangi produktivitas dan psikologis para pekerja gig tersebut.












