JAKARTA,KHABARNET – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan peringatan serius mengenai ancaman serta dampak jangka panjang dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda berbagai wilayah di Indonesia. Berdasarkan kajian dan pemodelan ilmiah, para peneliti menegaskan bahwa upaya pemadaman api secara konvensional saja tidak akan pernah cukup untuk menyelesaikan akar permasalahan karhutla yang terus berulang.
Peneliti Konservasi Hutan Pusat Riset Ekologi BRIN, Yayan Hadiyan, menjelaskan bahwa penanganan karhutla harus berfokus pada pencegahan dini, pemetaan wilayah rawan, serta perbaikan tata kelola lingkungan terutama di kawasan lahan gambut. Menurutnya, kebakaran pada lahan gambut memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi karena api tidak hanya membakar di permukaan, melainkan dapat merambat hingga kedalaman beberapa meter di dalam tanah (ground fire).
“Karhutla pada gambut kadang tidak hanya terjadi di permukaan, tetapi juga pada beberapa meter kedalaman. Sehingga teknis pengendalian menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama,” ungkap Yayan dalam keterangannya. Ia juga menambahkan bahwa sebagian besar kasus karhutla masih dipicu oleh faktor aktivitas manusia, sehingga peningkatan kesadaran masyarakat dan penegakan hukum yang tegas menjadi kunci utama.
Tidak hanya berdampak langsung pada kerusakan ekosistem lokal, riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN juga menyoroti ancaman polusi lintas batas (transboundary haze). Melalui simulasi pemodelan atmosfer, terungkap bahwa sebaran partikel halus PM2.5 akibat kebakaran hutan di sejumlah wilayah Indonesia dapat terbawa oleh angin—yang bergerak dari tenggara menuju timur laut—hingga melintasi batas negara dan memengaruhi kualitas udara di kawasan regional Asia Tenggara.
Partikel halus PM2.5 berukuran sangat kecil yang masuk ke dalam sistem pernapasan manusia tidak hanya memicu masalah kesehatan yang serius, tetapi juga berdampak luas pada sektor ekonomi, pendidikan, hingga hubungan antarnegara tetangga jika tidak segera dimitigasi secara komprehensif.
Melihat kompleksitas dampak tersebut, BRIN mendorong agar strategi pengendalian ke depan tidak hanya bersifat reaktif saat bencana terjadi, melainkan memperkuat sistem deteksi dini berbasis teknologi modern, tata kelola gambut yang berkelanjutan, serta kolaborasi lintas sektor yang lebih erat demi mencegah skenario buruk akibat kepungan kabut asap di Indonesia.















