KHABARNET – Aliansi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel dikabarkan tengah menghadapi tekanan strategis yang sangat berat di sektor pertahanan. Konflik terbuka yang berkepanjangan melawan Iran telah menguras cadangan amunisi strategis kedua negara hingga menyentuh level yang dikategorikan “di luar batas kritis” (beyond critical).
Berdasarkan laporan terbaru dari Komando Pusat AS (US Central Command) serta investigasi Pentagon, eskalasi militer yang terus berlanjut memaksa Washington dan Tel Aviv membakar anggaran hingga miliaran dolar demi mengoperasikan sistem pertahanan udara. Senjata yang paling banyak tersedot adalah rudal pencegat canggih kelas berat, termasuk dari baterai sistem pertahanan Patriot dan THAAD (Terminal High Altitude Area Defense).
Para pengamat pertahanan mencatat bahwa tingginya intensitas serangan balasan berupa drone dan rudal balistik dari Teheran membuat sistem pertahanan udara AS dan Israel bekerja tanpa henti.
> “Krisis ini bukan lagi sekadar persoalan biaya anggaran yang membengkak, melainkan kapasitas basis industri pertahanan yang membutuhkan waktu sangat panjang untuk memproduksi ulang komponen inti seperti motor roket padat dan bahan peledak berstandar tinggi,” ungkap laporan pengawas Pentagon.
Dampak Global dan Hambatan Ekspor Militer
Krisis rudal ini tidak hanya melemahkan kesiapan tempur taktis AS di Timur Tengah, tetapi juga mulai merembet ke kawasan lain. Akibat menipisnya stok domestik secara drastis, Departemen Pertahanan AS dilaporkan terpaksa menunda sejumlah pesanan dan pengiriman ekspor rudal strategis ke negara-negara sekutu di kawasan Asia dan Eropa hingga beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, meskipun Washington menegaskan bahwa kekuatan militer mereka tetap mampu memproyeksikan daya gempur kapan pun diperlukan, para pejabat senior pertahanan internasional memperingatkan bahwa perang panjang melawan Iran berisiko menguji batas akhir ketahanan logistik militer barat di tengah dinamika global yang semakin panas.












