KHABARNET – Gelombang demonstrasi besar-besaran menentang kenaikan biaya hidup dan lonjakan harga di Prancis berujung pada kerusuhan massal yang parah. Kerusakan dan penjarahan yang melanda berbagai gerai ritel diperkirakan telah menimbulkan kerugian hingga mencapai ratusan juta euro.
Alexandre Bompard, CEO grup ritel Carrefour sekaligus Ketua Federasi Perdagangan dan Distribusi Prancis, mengungkapkan bahwa aksi anarkis tersebut membuat banyak gerai mengalami penjarahan dan kerusakan infrastruktur yang masif.
“Kami mengalami penjarahan sepanjang hari, dan peralatan juga mengalami kerusakan. Kerugian Carrefour diperkirakan mencapai puluhan juta euro. Sementara itu, untuk sektor ritel secara keseluruhan di Prancis, kerugiannya akan mencapai ratusan juta euro,” ujar Bompard kepada stasiun televisi Prancis, BFMTV.
Bompard merinci bahwa sedikitnya 50 gerai Carrefour mengalami kerusakan fisik dalam insiden tersebut. Secara keseluruhan, gelombang kerusuhan ini berdampak langsung pada sekitar 1.500 gerai ritel di berbagai wilayah di Prancis.
Di sisi lain, situasi keamanan yang memburuk menuai kritik terhadap kesiapan aparat penegak hukum. Wakil Wali Kota Paris, Lamia El Aaraje, menyatakan bahwa kepolisian setempat mengalami kekurangan personel dan sumber daya yang memadai untuk menjamin keamanan publik di tengah eskalasi massa.
“Jelas, kali ini sumber daya yang tersedia di ibu kota tidak mencukupi,” kata El Aaraje kepada Franceinfo, sambil menambahkan bahwa pemerintah kota menerima banyak panggilan dari warga panik yang mempertanyakan keberadaan aparat akibat polisi yang kewalahan. Keluhan serupa juga disuarakan oleh para wali kota di sejumlah wilayah lain seperti Limoges, Marseille, dan Lyon.
Unjuk rasa yang memicu kerusuhan ini awalnya digerakkan sebagai bentuk protes menentang kenaikan biaya hidup. Namun, situasi dengan cepat berubah menjadi ricuh diwarnai bentrokan antara demonstran radikal dan aparat kepolisian, aksi perusakan fasilitas umum seperti halte bus dan kendaraan, serta penjarahan toko-toko.
Guna meredam amuk massa, kepolisian terpaksa mengerahkan gas air mata, granat kejut, dan meriam air. Berdasarkan data dari Kementerian Dalam Negeri Prancis di bawah kepemimpinan Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez, sebanyak 1.800 orang telah ditahan, sementara lebih dari 500 personel kepolisian serta petugas pemadam kebakaran dilaporkan mengalami luka-luka dalam mengendalikan situasi. Diperkirakan total ada sekitar 550.000 orang yang turun ke jalan dalam aksi protes nasional tersebut, dengan 110.000 orang di antaranya terkonsentrasi di ibu kota Paris.












