JAKARTA — Hasil survei terbaru yang dirilis oleh lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan adanya penurunan drastis pada tingkat elektabilitas Presiden Prabowo Subianto. Berdasarkan temuan survei nasional yang dirilis pada Oktober 2026, dukungan elektoral terhadap Prabowo merosot tajam hingga berada di bawah angka 10 persen.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, memaparkan bahwa penurunan kekuatan elektoral Prabowo terjadi secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama, elektabilitas Prabowo tercatat berada di angka 9,8 persen.
“Penurunan yang sangat besar itu merosot dari Maret ke Juli, di mana saat itu dari 33 persen turun ke 14,5 persen dalam waktu sekitar empat bulan. Dan setelah itu, dari Juli ke Oktober, belum ada tanda-tanda rebound (pemulihan). Kekuatan elektoral Pak Prabowo ternyata semakin melemah,” ujar Deni Irvani.
Sebagai perbandingan, tren historis SMRC mencatat bahwa elektabilitas Prabowo sempat berada di angka 34,9 persen pada November 2025. Namun, angka tersebut terus mengalami tren penurunan berturut-turut hingga tersisa 9,8 persen pada periode survei Oktober 2026.
Dedi Mulyadi Puncaki Simulasi Di sisi lain, survei SMRC ini juga merekam pergeseran peta dukungan politik di tingkat nasional. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menduduki posisi teratas dalam simulasi 24 nama dengan perolehan elektabilitas mencapai 35,5 persen. Posisi selanjutnya diisi oleh sejumlah figur publik dan tokoh nasional lainnya, sementara responden yang belum menentukan pilihan (undecided voters / tidak tahu-tidak jawab) berada di kisaran 13,9 persen.
Korelasi dengan Tingkat Kepuasan Publik Menurut Deni, merosotnya elektabilitas ini konsisten dengan tren penurunan approval rating atau tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan. Penurunan kepuasan masyarakat ini dinilai berdampak langsung terhadap melemahnya basis dukungan elektoral dalam simulasi preferensi politik terkini.
Meskipun demikian, pihak SMRC menekankan bahwa angka-angka tersebut merupakan potret preferensi responden pada periode survei dan tidak bersifat mutlak dalam menentukan hasil akhir kontestasi politik di masa mendatang.














